Yang mencolok kira kira dimulai atau diawali oleh Presiden Gus Dur (saya tidak mau menyebut mantan Presiden) ketika beliau melontarkan sebuah guyonan bahwa DPR seperti taman kanak kanak. Muncul istilah Presiden vs DPR.
Muncul kemudian hari istilah menggegerkan dunia persilatan (persilatan lidah Indonesia, karena memang negara ini bisanya bersilat lidah) KPK vs Polri atau kerennya cicak vs buaya. Yang lucunya, polisi senang sekali menyebut dirinya sebagai buaya. Dan otomatis menjadi buaya darat karena polisi ada didaratan untuk menilang pengendara motor yang melanggar. Jadilah buaya darat.
Terakhir muncul lagi yang lagi hot dan menghebohkan, saya tidak tahu apa di Singapura juga mengikutinya karena waktu saya kesana, rasanya banyak orang yang nggak tau berita tentang Indonesia termasuk pendeta vs pendeta, mantu vs mertua, dan masih banyak lagi. Kembali, berita tentang tertangkap ya Raffi Ahmad oleh BNN - badan narkotika nasional.
Saya mau cerita perjalanan kasus ini untuk teman teman di Singapura yang kurang update informasi:
Pertama, Raffi Ahmad tertangkap di rumahnya beserta belasan orang lainnya oleh BNN.
Kedua, Raffi dan kawan kawan dibawa ke BNN untuk diperiksa. Karena ada satu zat yang dikonsumsi yang ditenggarai turunan dari narkoba, entah gimana turunnya entah gimana menurunkannya saya juga gakk jelas, wong itu urusannya dokter. Menurut pengacara Raffi Ahmad yaitu bapak Hotma Sitompul, Raffi tidak mengetahui bahwa itu sejenis turunan turunan (kayak silsilah raja Jawa) dari narkotika, padahal itu digunakan Raffi untuk mencari nafkah alias agar tampak fit ketika bekerja, semacam vitamin dibawahnya doping lah.
Ketiga, semakin ramai karena BNN memaksa Raffi untuk menandatangani BAP bahwa dia mau di rehab.
Keempat, tambah runyam lagi, karena ternyata Raffi tidak di rehab seperti omongan orang BNN, tapi Raffi malah disuruh bekerja kayak pembantu rumah tangga yang akan dikirim di Hongkong. Tiap hari kerjanya ngobrol dengan sesama PRT eh....salah sesama pasien, menyapu, mengepel, membersihkan kamar dan sebagainya. Tidak ada toksinasi seperti yang seharusnya dilakukan.
Kelima, semakin tambah ramai dan DAsYAt (kayak acara yang dibawain ama Raffi di RCTI) karena banyak artis yang menjadi Bro dan Bri Raffi selama ini melakukan demo, kampanye, dan sosialisasi untuk membebaskan Raffi. Karena, ternyata dalam rehab tersebut ketika di cek ulang, ternyata Raffi Ahmad dinyatakan negatif narkoba. Muncullah sekarang istilah Raffi vs BNN.
Dalam kasus ini, saya membela Raffi dengan mengatakan: BEBASKAN RAFFI!!!
Beberapa teman menilai, kesalahan Raffi hanya satu! Bukan kepemilikan zat yang disebut narkoba tapi karena PUNYA DUIT BANYAK. Bayangan aja kalau Raffi ternyata hanya pegawai toko, nggak akan seheboh ini, buktinya bandar bandar narkoba yang tertangkap tangan membawa kilo an narkoba, beritanya timbul dan langsung tenggelam. Kalau Raffi? Cuman ditemukan secuil aja, berita aspek mingguan kagak selesai selesai. Ada apa dengan BNN
Kok jadi curhat.......
Kembali, ini membuktikan bahwa bangsa ini merupakan bangsa versus, pro dan kontra, partai dan non partai, semuanya selalu tidak sama. Itulah demokrasi, itulah yang dinamakan perbedaan adalah keindahan, yang membuat nggak indah itu kalau perbedaan yang dipaksakan, beda ya beda jangan disamakan, sama ya sama jangan dibedakan.
Saya berharap ini BISA menjadi pencerahan bagi teman teman saya di Singapura, agar tetap BISA mengikuti perkembangan berita di tanah dan di air Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar